Teruntuk: Mbakku yang bercadar di Taiwan

Assalamu'alaikum mbak,
Salam sayang untuk mbak, apa kabar? 
Sejujurnya saya secara pribadi salut, berbangga hati bahkan iri dengan kekuatan iman islam kalian dalam menjalani syari'at Islam sebagai muslimah. Ditengah kesibukan kerja, di tengah-tengah lingkungan yang mayoritas non Islam , bahkan tidak beragama,  kalian tetap tidak goyah menjalani apa yang menjadi kewajiban sebagai muslimah. Kalian tidak tergiur dengan model- model fashion yang sedang trend di Taiwan ini. Kalian mampu menjaga seluruh aurat kalian dari pandangan yang bukan muhrim, sungguh saya sangat iiri dan angkat topi dengan ketakwaan kalian. Bahkan, di Negeri kita sendiri saja Indonesia yang mayoritas Islam, belum banyak yang mampu melakukannya (termasuk saya pribadi).
Maaf sebelumnya, Mbak... Sebagai pribadi yg belum begitu mumpuni ilmu agamanya,  saya dan mungkin banyak teman-teman saya, punya satu pertanyaan. Apakah disaat bekerja merawat pasien, Mbak juga bercadar?

Mbakku yang bercadar dan baik hati,
Terus terang, surat ini hanya bentuk rasa kekhawatiran saya terkait pemberitaan yang saya dengar belakangan ini.
Apakah Mbak juga sudah mendengar pemberitaan yang sedang marak di Taiwan? tentang kita para BMI terutama umat muslim perempuan. Kalau belum, ada baiknya sesekali mbak lihat berita di tv, atau mungkin di sini saya bisa sedikit kasih tahu. 
Begini mbak, beberapa hari yang lalu sampai sekarang saya menulis surat inipun masih berlangsung pemberitaannya, yaitu terkait pemboman di berbagai negara dan yg terakhir ini di Belgia, gencar pemberitaanya di media mereka dan mereka bilang lagi -lagi pelakunya ISIS sang teroris. Dan ISIS yang mereka tahu(red-penduduk Taiwan) adalah orang Islam. Kenapa? Padahal tidak semua dari kita adalah ISISkan? Bahkan dari sebagian kita umat muslimpun sangat mengecam tindakan anarkis mereka. Jawabannya tentu saja karena mereka tidak tahu. Yang mereka lihat secara kasat mata di tv,  ISIS itu islam, ritual ibadahnya sama seperti kita umat muslim, dan bagi perempuannya berciri berkerudung, bercadar warna hitam. Dan kita tidak bisa apa-apa dengan opini mereka, meski kita sudah berusaha menyangganya mati-matian mungkin pada segelintir orang-orang terdekat. Tapi tidak mungkinkan kita bisa menjelaskan semua kebenarannya pada mereka? Bahwa kita muslimah, bukan teroris, kita cinta damai tidak suka kekerasan dan lain-lain.Selain karena kendala bahasa, kita juga siapakan? 
Kita pun tidak bisa menyalahkan mereka, jika mereka punya kesimpulan atau lebih tepatnya ketakutan pada kita, umat muslim khususnya perempuan-perempuan bercadar jika mungkin asumsi mereka adalah anggota ISIS. Tidak, mbak... Sama sekali kita tidak bisa menyalahkan mereka, karena seperti itu yang mereka lihat di pemberitaan. Apalagi kita adalah minoritas.😥
Mbakku, yang insyallah dimuliakan Allah...
Jika pada akhirnya pihak Pemerintah Taiwan, mulai memberikan perhatian dan tindakan untuk melarang BMI memakai cadar, ingat bukan hijab. Tolong jangan marah ya, mbak...! Toh, mereka tidak melarang kita memakai hijab kok, sepanjang atau selebar apapun hijab kita. Yang mereka larang adalah cadarnya. Jadi bisakah kalian mengindahkan peraturan tersebut? Demi kami sesama saudaramu di perantauan. Karena belakangan terdengar isu bahwa ISIS dari Indonesia mengirim anggota mereka ke Taiwan dan Jepang berkedok sebagai BMI. Dan itu sangat meresahkan dan menakutkan tidak hanya bagi masyarakat Taiwan tapi kami, kita juga sebagai perantau di Taiwan yang tidak tahu apa-apa, karena pasti akan ada imbas negatifnya. Apalagi dengan kerap mereka lihat beberpa muslimah becadar hitam-hitam berkerumun di tempat- tempat umum. Dan itu menimbulkan tanda tanya dan berbagai macam asumsi bagi mereka. Selain karena model fasion yang berbanding terbalik dengan mereka yang  sangat terbuka dengan kalian yang hanya terlihat bola matanya saja, di tambah lagi dengan isu pemberitaan tadi . Jadi jangan marah atau bersedih ya, Mbak...? Kami tahu itu hak kalian kok, kami paham betul jika kalian tidak mudah menerima peraturan itu, dan  sangat yakin betul kalian menjalaninya karena mendapat hidayah yang luar biasa (dan sekali lagi saya pribadi sesungguhnyapun iri dengan hidayah yg kalian dapatkan). Tetapi kami juga mohon pengertiannya pada kalian, untuk kami yang belum mendapat hidayah atau yang sedikit demi sedikit ini sedang belajar berhijab dan sama- sama sebagi BMI agar tidak terkena dampak negatifnya, bahwa yg memakai kerudung itu Islam dan orang islam itu ISIS, teroris.
Mbak-mbak semua tidak maukan bekerja dengan suasana tidak nyaman dan tidak kondusif  lalu dicurigai sebagai teroris?Bukankah pekerjaan kita saja sudah sangat melelahkan. Apalagi ditambah tidak nyaman karena dituduh sebagai anggota ISIS Naudzubillah, ya!
Kita di sini hanya pendatang, numpang hidup, Mbak. Rasanya mungkin lebih bbijak jika kita ikuti aturan mereka dan  kita yang harus beradaptasi pada mereka karena kita yang pendatang, bukan mereka. Dan semestinya sekarang ini kita harus berterimakasih pada pemerintah Taiwan, Mbak. Coba kita lihat, sekarang ini selain kita bisa bebas berhijab, diberikan waktu untuk sholat sesuai keyakinan sebagai muslim, diperbolehkan puasa, bahkan masyarakat Taiwan khususnya para pedagang makanan, sangat paham betul kalau kita mayoritas BMI adalah muslim dan tidak makan apapun yang berbahan babi, dan mereka tidak akan menawarkannya pada kita, Bahkan sekarang saya mendengar telah banyak pula dibangun mushola dan masjid di bebrapa tempat strategis dimana para BMI biasa berlibur.Sungguh sebuah toleransi yang indah untuk kitakan, Mbak? 
Tapi tahukah, Mbak? Toleransi indah yang kita rasakan sekarang itu tidak serta merta mereka berikan begitu saja, karena dulu semasa belum banyaknya para BMI di Taiwan dan mungkin juga sampai saat ini masih ada teman-teman kita saudara semuslim sebagai BMI, jangankan bebas behijab, untuk sholat saja harus mengendap-endap sembunyi di kamar mandi( beruntung kamar mandi orang sini selalu bersih, kering dan wangi), makan terpaksa harus ikut apa kata majikan termasuk makan babi, dan saat bulan puasa datang, kerap mengendap seperti pencuri untuk makan sahur, karena bagi keyakinan sebagian masyarakat Taiwan, hanya hantu saja yg makan di pagi buta. Lalu saat lebaran datang, jangankan bisa pergi sholat 'ied walaupun hanya satu kali saja dalam setahun, bisa mendengarkan adzan saja sungguh sudah membuat berlinangan air mata bahagia. Bisa dibayangkan kan sebagai umat muslim menjalani itu semua tidaklah mudah, tapi kita tidak punya pilihan lain, berjuang di perantauan mengais rejeki demi masa depan dan orang-orang tersayang, kalian juga samakan?
Lalu jikalaupun toleransi berbeda keyakinan itu sekarang  kita rasakan, saya yakin itu karena kerja keras sebagian mereka(sahabat dan saudara kita sesama BMI muslim) untuk menyuarakannya pada pemerintah Taiwan, dengan tetap berdedikasi dan beratitude dalam bekerja, membuktikan bahwa perbedaan agama dan perbedaan tata cara beribadah tidak akan mengganggu kinerjanya. Perlahan mereka membuktikan, pada Bos atau majikan mereka. Dan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Jadi jangan sampai apa yang telah disuarakan dan diperjuangkan sahabat-sahabt kita akhirnya sia-sia, dan takutnya tidak ada lagi toleransi itu. Dikarenakan kita tidak mengikuti aturan mereka, terkait isu SARA dan terorisme belakangan ini. Dan bukankah dalam agama kita hukum bercadar itu tidak wajibkan? Atau jika pun mbak-mbak tetap kekeh memakai cadar, seperti teman-teman sudah sarankan, mungkin pakai masker bisa sebagai solusi penggantinya, bisakan?
Dan mohon maaf  jika isi surat saya ini terlalu panjang dan bertentangan atau berbeda pendapat dengan pendapat dan keyakinan Mbak. Tapi sekali lagi sebagai orang yang kurang mumpuni dalam ilmu agama, saya mohon kepada mbak- mbak semua agar mau mendengar dan menuruti aturan pemerintah Taiwan agar tidak memakai cadar dulu selama di sini, demi rasa aman dan nyaman untuk kami, kita semua sesama BMI. Guna memeberikan pemahaman kepada masyarakat Taiwan semua, bahwa kita BMI bekerja dengan niat tulus berjuang mengais rejeki demi masa depan, bukan datang sebagai teroris. Dan bukankah berbuat kebaikan untuk sesama muslim juga adalah salah satu bentuk ibadah, jihad dan dakwah, Mbak?
Sekian surat terbuka saya, semoga bisa dipahamai dan kita bisa saling memahami.
Salam santun, salam ukhuah, Semoga Allah senantiasa menjaga iman islam kita semua dan melimpahkan keberkahaNya dimanapun kita berada, Aamiin.

Taiwan, 24 Maret 2016.
Wassalam.
Saya, saudara sesama muslim.

0 Response to " "