Tolong jangan hujat saya!

Tidak ada seorang Ibu pun yang mau pergi jauh meninggalkan anak-anaknya, tidak ada! Termasuk saya.
Tapi bukankah pilihan hidup setiap orang itu berbeda-beda?
Jika boleh saya memilih pun, saya akan memilih untuk jadi seorang ibu rumah tangga saja. Menemani  anak-anak di rumah, mengantarkan mereka sekolah, membuatkan mereka sarapan, masak untuk keluarga, mendengarkan cerita dan gelak tawa mereka, dan memastikan mereka baik- baik saja setiap harinya. Itu jauh lebih menyenangkan dan membahagiakan bagi naluri seorang ibu. Tapi apa daya, kadang perjalanan hidup tidak selalu seperti yang kita inginkan. Terlepas dari apapun penyebabnya. Dan menuntut kita untuk mengambil satu keputusan, yang mungkin mengorbankan sesuatu yang sangat kita sayangi.
Maka bukan tanpa pertimbangan dan pemikiran yang beribu-ribu kali saya perhitungkan, jika saya memutuskan untuk meninggalkan jauh dan berpisah dengan waktu yang lama dengan anak saya. Saya tahu alasan apapun yang saya utarakan tidak akan orang lain pahami, karena orang lain tidak merasakan apa yang saya rasakan dalam perjalanan hidup saya. 
Karena orang lain tidak tahu bagaimana sakitnyan saat tidak bisa menyusui bayinya, sebab asinya kering kurang asupan gizi, sedangkn gizi tidak mungkin didapat jika hanya bisa makan nasi dan kecap saja.
Karena orang lain tidak tahu bagaimana paniknya saat anak sakit, ketika dokter menyarankan opname di rumah sakit dengan biaya tidak murah. Sedang ditangan hanya ada uang 100ribu rupiah.
Karena orang lain tidak tahu bagaimana tersayatnya hati, saat anak menangis sebab melihat teman-temannya sudah ramai memakai seragam, saya hanya bisa mengucapkan "Sabar ya, nak.." Dengan air mata yang tercekat di kerongkongan.
Karena orang lain mungkin tidak pernah merasakan bagaimana rasanya dijauhi orang- orang terdekat, sebab mereka bosan dengan kalimat, "Tolong saya, saya mau pinjam uang untuk beli beras..." 
Maka tak perlulah saya berteriak- teriak pada setiap orang tentang apa yang saya rasakan, kesusahan apa yang saya hadapi. Karena belum tentu juga orang lain mau mendengarkan dan membantu.
Mungkin orang lain hanya bisa bilang, " Kok bisa? Kok tega? meninggalkan anaknya bertahun-tahun?" 
Padahal setiap hari saya harus sekuat tenaga membendung air mata agar tidak terus berderai- derai, setiap kali perasaan rindu itu menggunung dan menyesakkan dada.
Setiap saat juga mencoba mencari kesibukan, agar tidak terbawa melow dan drama saat melihat kemesraan teman- teman dengan buah hatinya yang mereka posting di media sosial.
Setiap hari saya berusaha untuk tidak menjadi seperti orang gila, karena perasaan bersalah saat tidak bisa bersama menemani anak dimomen- momen pentingnya. Setiap kali juga hati saya tersayat- sayat dan was-was, begitu khawatirnya saat melihat berita kriminal di mana-mana. Tapi saya bisa apa! Semua harus saya jalani, memang tidak mudah tapi saya harus kuat, karena ini adalah konsekuensi dari pilihan perjalanan hidup saya.
Dengan semua ketidak mudahan itu, tolong jangan hujat saya!

0 Response to "Tolong jangan hujat saya!"