“Tenang saja sayang, aku tidak akan lama kok di Indonesia, oke?” aku mencoba menenangkan hati Bi.
Wajahnya masam, menunjukan ketidak sukaaanya dengan rencana cutiku, meski hanya terbilang dua minggu saja kepulanganku.
Sudah terhitung tiga tahun ini kedekatan kami berlangsung, persis saat aku baru satu bulan menginjakan kaki di formosa sebagai perantau , saat itu aku bertemu denganya di sebuah toko Indonesia. Awalnya aku sedikit kaget saat mengetahui statusnya sebagai tenaga kerja ilegal, namun karena sikapnya yang begitu baik dan kerap perhatian padaku, semua menepis kecurigaanku padanya. Justru semakin aku dekat dengannya aku merasa hari-hariku selalu berwarna. Hingga akhirnya, aku memutuskan untuk keluar dari asrama yang selama ini menampungku dan menyewa sebuah kontrakan mungil bersamanya.
“Aku kesepian di sini, nggak ada yang menemaniku makan, bercanda, jalan-jal...,” kalimatnya menggantung saat kututup mulutnya dengan telunjukku.
Aku bergelayut mesra di dadanya. Bi memelukku erat seolah tak ingin melepaskannya.
Sikap inilah yang selalu membuatku tidak bisa berpisah darinya, Bi selalu memperlakukanku dengan penuh kehangatan. Di dekatnya aku merasa dibutuhkan, menjadi seseorang yang berarti. Berbeda jauh sekali dengan sikap mas Arlan.
Akh, laki-laki itu, hanya bisa menyakitiku saja. Bahkan tidak pernah menghargai sama sekali pengorbananku, selama aku merantau bertahun-tahun di Taiwan. Hanya uang dan uang yang selalu dibicarakan mas Arlan padaku. Seandainya saja belum ada Maudy diantara kami.
“Jangan lupa sms ya, kalau sudah sampai sana?” Bi melepas pelukkannya, membuyarkan anganku.
Aku mengangguk manja, dikecupnya keningku. Bi menyerahkan boneka beruang yang lucu. Katanya sudah jauh-jauh hari dia membelinya, oleh-oleh untuk Maudy.
Seandainya saja kami tidak sama, mungkin aku tidak akan berpikir ulang untuk segera menggugat cerai mas Arlan, dan aku lebih memilih hidup bahagia bersamanya.
**
Dua minggu rasanya waktu yang singkat, saat aku menghabiskannya bersama Maudy, putri kecilku. Tapi cukuplah mengobati kerinduanku padanya, apalagi Maudy terlihat begitu gembira menerima oleh-oleh dariku. Tawa riangnya tak pernah berhenti mewarnai hari-hari kami berdua.
Lain halnya dengan mas Arlan, meskipun notabenenya masih menjadi suamiku, tapi kami sudah seperti dua orang asing saja yang tinggal dalam satu atap. Aku pun tak perduli dengan semua sikapnya, aku pikir masih ada Bi, yang selalu memperhatikanku. Meski komunikasi kami belakangan hanya lewat selular, karena dipisahkan jarak.
Hingga tepat di hari terakhir masa cutiku, saat aku sedang sibuk di kamar memasukan beberap baju ke dalam koper,
“Kamu punya pacar lagi di sana?” Mas Arlan masuk tiba-tiba, raut mukanya tampak serius. Aku sedikit kaget, namun sebisa mungkin aku menetralisir perasaanku.
“Kenapa memangnya, apa bedanya dengan kamu?” aku menjawabnya dengan datar
“Siapa dia?” dilemparnya ponselku ke atas ranjang, di samping kami berdiri.
Entah sejak kapan mas Arlan memegang ponselku, dan aku kira dia telah melihat semua isinya. Sebab seingatku, aku meletakannya di atas nakas sisi ranjang, waktu aku tinggal mandi tadi.Tampak air mukanya berubah, memerah sepertinya menahan marah.
“Namanya Arini Biandra, kenapa?” jawabku dengan tenang, seolah menantang kemarahannya.
“Jadi ... kamu?!” Dengan emosi dia membalik badanku yang sedari tadi memunggunginya, tangannya sudah melayang hampir menampar pipiku, tapi dia urung melakukannya.
“Ayo tampar, tampar aja! Kamu pikir, kelakuanmu selama ini sering membawa perempuan lain itu tidak lebih menyakitkan dari tamparanmu?”
“Aku juga sudah cukup bersabar selama ini, mendengar dan melihat kelakuanmu. Apa kamu pikir itu tidak lebih hina, dari aku dan Bi?”aku balas meneriakinya, kami sama-sama naik pitam.
“Ya, tapi bukankah dia itu perempuan juga?!” Mas Arlan seolah masih belum mempercayai kejujuranku.
“Setidaknya dia bisa memberiku rasa nyaman! dia perhatian, dia sangat menghargaiku, tidak seperti kamu!” kembali nadaku meninggi. Lalu melengos menghindarinya.
Aku kembali membenahi baju-bajuku lagi.
Pertengkaran di antara aku dan mas Arlan pun tak terelakan. Mata hatiku sudah dibutakan oleh kehangatan Bi.
“Kamu urus saja proses perceraian kita, nanti aku transfer biayanya.” Akhirnya aku membuat keputusan itu juga. Selesai kukemasi koperku dan bergegas mengejar waktu penerbanganku ke Taiwan.
**
Taiwan, baru saja memasuki musim dinginnya. Aku merapatkan overcoatku agar dinginnya malam tak begitu menggigilkan badan. Taksi yang mengantarkanku ke Yang de street, akhirnya sampai juga. Meski pengaruh jetlag masih sedikit memusingkan kepalaku, tapi tetap kuseret langkahku dengan semangat. Betapa sudah rindunya aku ingin memeluk Bi, malaikat penghangatku. Namun saat aku mengetuk pintu rumah sewaan itu, Bi tak juga membukakannya. Akhirnya kukeluarkan kunci cadangan yang biasa aku bawa kemana-mana.
Mungkin Bi, sedang keluar membeli sesuatu, pikirku.
Namun sayup-sayup suaranya terdengar dari dalam kamar, seperti sedang bercakap dengan seseorang. Hingga kubukua pintu kamar.
Ternyata benar dugaanku, Bi ada di dalam kamar. Tapi karena begitu fokus dia berbicara di telpon, hingga tak menyadari sedikitpun kedatanganku.
“Ya, aku suka pilihanmu, designnya unik. Mas Bram tinggal matchingin warnanya aja, kalau bisa warna soft ya?"
“Ya sabar, pokoknya Mas urus saja semuanya, aku ikut apa katamu aja. Ya..udah ya? nanti aku telpon kamu lagi. by.. love you.” Bi mengakhiri perbincanngannya di telpon.
“Bi!" aku memanggilnya. Bi menoleh padaku, wajahnya tampak gugup dan gelagapan melihatku.
"Sudah berapa lama kau merencanakan pernikahan itu dengan mas Brammu?" nada pertanyaanku begitu datar, tak kutunjukan luapan marah sedikit pun. Setahuku Bram adalah mantan pacarnya, sebelum dia dekat denganku.
Bi perlahan mendekat dan memelukku, dia membisikan sesuatu padaku.
"Maafkan aku beib, aku sangat mencintaimu tapi aku tidak bisa meninggalkannya dan hidup terus bersamamu?"
"Kita tidak mungkin bisa bersatu."
Namun sebelum Bi melepas pelukannya, kuhantamkan asbak kaca yang tadi aku seret dari meja di sampingku. Tepat mengenai belakang batok kepalanya.
Darah segar mengucur dari kepalanya, Bi merosot dari pelukanku, terkulai di bawah kakiku.
Satu persatu kelebat kemesraan kami dalam pergumulan malam di ranjang, serta pertengkaran demi pertengkaranku dengan mas Arlan, silih berganti bermunculan.
Perlahan darah merah pekat menggenangi sekujur tubuh Bi, membuatku limbung. Namun aku tetap memeluknya, tak perduli darah segar itu membasahi tubuhku juga.
0 Response to "Noktah Merah Asmaraku"